Rabu, 25 Juli 2012

Puasa di Jepang: Hormati yang Tidak Puasa !


Berpuasa di kota Tokyo memiliki sisi menarik tersendiri. Hal ini karena suasana di Tokyo berbeda dengan suasana di tanah air. Kalau di Indonesia, Ramadhan adalah sebuah “festivities”. Saat Ramadhan tiba, suasana mall, pusat perbelanjaan, perkantoran, berubah wajah menjadi Islami. Di berbagai tempat, banyak restoran yang tutup atau menggunakan tirai. Tempat-tempat hiburan malam juga ditutup, kalau tidak mau ambil risiko digrebek masyarakat.

Alasannya, hormatilah orang yang berpuasa.

Namun di Tokyo tidaklah demikian. Justru sebaliknya, aktivitas masyarakat saat bulan Ramadhan berjalan normal seperti biasa. Warung dan restoran di kota Tokyo tetap buka, dan tentu tanpa ditutup tirai. Orang-orang juga tetap makan dan minum di muka umum. Sementara tempat hiburan juga tetap buka. Ya jelas saja, karena Jepang memang bukan negara muslim.

Namun tentu bukan itu permasalahannya. Jepang memang tidak menyelenggarakan puasa sebagai ibadah nasional. Namun hal tersebut tidak mengurangi kekhusyukan bagi mereka yang berpuasa. Justru, berpuasa di Jepang memiliki makna tersendiri karena kaum muslim mendapatkan langsung esensi dasar dari berpuasa, yaitu menahan nafsu, menghargai orang lain, dan memupus ego individu atau kelompok.

Selama ini saya cenderung beranggapan bahwa orang puasa itu yang harus dihargai. Kalau ada orang makan di hadapan yang berpuasa dianggap tidak menghargai yang berpuasa.

Di Jepang, saya justru berpikir sebaliknya, kita harus menghormati yang tidak berpuasa. Orang berpuasa tidak boleh menyulitkan mereka yang tidak berpuasa, apalagi meminta fasilitas dan perhatian khusus karena kita berpuasa.

Saat seorang kawan Jepang bertanya mengapa saya tidak makan dan minum, barulah mereka memahami bahwa orang muslim sedang berpuasa. Mulanya mereka khawatir dengan kesehatan saya karena berpuasa di musim panas dianggap berbahaya. Namun saat mengetahui esensi berpuasa, mereka sangat memahami dan menghormati. Orang Jepang juga mengenal puasa. Mereka menyebut puasa dengan istilah “Danjiki”. Istilah tersebut mengacu pada kultur Jepang (Budhisme-Shintoisme) yang juga mengajarkan untuk menahan makan dan minum.

Rasa hormat pada yang tidak berpuasa bukan hanya dilakukan saat siang hari. Saat malam tiba, sholat tarawih di Tokyo juga dilakukan secara tenang dan tidak mengganggu masyarakat. Sholat tarawih di berbagai tempat di Tokyo, baik masjid maupun aula, tidak menggunakan pengeras suara yang terdengar keluar. Pengeras suara hanya diperdengarkan di dalam ruangan saja. Ini adalah bentuk toleransi agar tidak mengganggu istirahat masyarakat Jepang yang tidak berpuasa dan sedang istirahat.

Berpuasa di Jepang mengajarkan satu hal, bahwa rasa saling menghargai umat lain adalah kunci untuk menjadikan Islam lebih dipahami dan dihargai. Mengetahui bahwa kami berpuasa, rekan-rekan Jepang di kantor justru menghargai. Mereka tidak makan minum di depan yang berpuasa. Padahal, kami tidak pernah melarang dan mempermasalahkan.
Selama tinggal di Jepang, saya justru merasakan bahwa sejatinya, orang-orang Jepang ini juga berpuasa. Oleh karenanya, kita harus saling menghargai.

Di jalan raya, mereka “puasa” dengan tidak saling serobot dalam mengemudi. Di bis dan kereta, mereka “puasa” untuk tidak ngobrol dan berisik, karena takut mengganggu sekitarnya. Mereka juga “puasa” melakukan kejahatan atau pencopetan di angkutan umum.
Di pekerjaan, mereka puasa tidak membicarakan kekurangan orang. Di masyarakat, mereka puasa untuk menahan kepentingan diri demi masyarakat dan tatanan yang lebih luas. Mereka mengantri, membuang sampah pada tempatnya, dan tertib dalam bermasyarakat.

Bukankah itu juga esensi dari puasa kita? Bahwa kita harus menahan nafsu (selama kita hidup), dan bukan sekedar menunda nafsu (hanya sampai dengan berbuka puasa)?

Selamat berpuasa, dan hormatilah yang tidak berpuasa. Salam dari Tokyo.




0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More